logo - 3

 quote-openMemberdayakan Masyarakat Melalui Perpustakaan dan Memelihara Akuntabilitas Melalui Kearsipan
quote-open

      :: SELAMAT DATANG DI SITUS RESMI DINAS PERPUSTAKAAN DAN KEARSIPAN KOTA MEDAN ::

jam layanan

peta lokasi

kontak kami

Articles

Profil TBM Luckman Sinar

Kasat mata hanya biasa. Tapi bila ditilik lebih dalam, menyimpan warisan berharga seorang bangsawan yang cinta dengan budayanya.

foto: Sofiari Ananda
Sekilas, rumah yang beralamat di Jalan Abdullah Lubis No. 42 KotaMedan itu terlihat seperti rumah biasa. Perbedaan tampak pada bagian atap sebagian rumah dihiasi corak melayu. Masuk dari garasi, kita akan langsung dipersilakan naik ke lantai dua. Di sana sudah menanti lebih kurang tujuh ribu judul koleksi buku Tengku Luckman Sinar, pemangku adat kesultanan Melayu Serdang. Tak lain, rumah itu adalah ruang koleksi buku pribadi milik Tengku Luckman Sinar, yang kini telah dapat diakses masyarakat. Tempat ini buka dari Senin sampai Sabtu mulai pukul 09.00 pagi hingga pukul 17.00.

Pasca meninggalnya Pemangku Adat Kesultanan Melayu Serdangbergelar Tuanku Luckman Sinar Basarshah II pada awal 2011 lalu, keluarganya sepakat mendirikan sebuah taman baca untuk mengenang Tengku Luckman semasa hidup. Amanah utama Tengku Luckman kepada keluarganya adalah agar menjaga koleksi buku yang sangat ia banggakan. Dengan begitu, peninggalan Tengku Luckman akan dapat memberikan manfaat ilmu kepada seluruh masyarakat.

Mereka merevitalisasi sebagian rumah keluarga untuk dapat dijadikan sebuah fasilitas umum. Selain itu mereka juga pelajari tata cara pengarsipan agar dapat melayani pengunjung dengam baik. Buku-buku di sana tersusun rapi, dikelompokkan dalam kategori sejarah, catatan perjalanan, kesusastraan, kesenian, ilmu terapan, ilmu alam, ensiklopedia terbitan berseri dan selebihnya buku yang masih belum terdata.

Mendalami sosok Tengku Luckman Sinar, putrinya Tengku Mira Sinar yang mengelola taman baca ini mengatakan, ayahnya adalah sosok yang sangat cinta dengan kebudayaan Melayu. Saat  berprofesi sebagai dosen di Fakultas Sastra USU (sekarang Fakultas Ilmu Budaya), Tengku Luckman selalu giat mempelajari dan meneliti tentang budaya Melayu terutama Melayu Sumatera. Penelitian yang Tengku Luckman lakukan bahkan sampai ke luar negeri untuk mencari rekam jejak yang ditulis oleh peneliti barat saat masa penjajahan.

Dalam aktivitas penelitian inilahia gemar mengumpulkan catatan-catatan sejarah Indonesia di luar negeri. Jadilah ia dapat memperluas dari mempelajari budaya melayu hingga sejarah Indonesia, bahkandunia.
Di antara buku-buku langka ia kumpulkan itu ialah Indonesia Possible Dream yang ditulis oleh Howard Parfley Jones, Wedloop met de Moeson karya G F Jacobs, Indonesia From Sabang To Merauke karya John Keay dan masih banyak yang lain.

Dikatakan Mira, hal ini menjadi penarik bagi pengunjung hingga mulai berdatangan ke taman baca ini. Sejak keluarga mereka menjadikan tempat ini menjadi sebuah taman baca rata-rata pengunjung lebih kurang seratus orang perminggu. “Kebanyakan pengunjung kalangan pelajar dan peneliti, bahkan ada peneliti yang dari luar negeri juga,”katanya sambil memperlihatkan data pengujung, Selasa (11/9).

foto: Sofiari Ananda
Kepala Sub Bidang Kelembagaan Perpustakaan Daerah (Pusda) Sumatera Utara (Sumut) Jojor Sitorus Pane mengatakan, Pusda sangat mengapresiasi keberadaan Taman Baca Masyarakat (TBM) Luckman Sinar. Tahun ini TBM Luckman Sinar berhasil meraih predikat taman baca terbaik Sumut di ajang lomba taman baca oleh Badan Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi (BPAD) SumutJuli lalu. Predikat ini diberikan karena TBM Luckman Sinar dinilai dapat memenuhi kebutuhan pengguna dalam mencari referensi terutama untuk penelitian.

Meski baru menginjak usia enam bulan, Jojor bilang TBM Luckman Sinar sebenarnya sudah bisa dikategorikan sebagai perpustakaan, karena telah mempunyai koleksi sekitar tujuh ribu judul. Jauh melebihisyarat sebuah perpustakaan yang minimal punya seribu judul buku. Begitu juga dengan sarana dan prasarana operasional yang tetap serta mampu melayani kebutuhan pengakses. “Apalagi menyediakan buku yang tak dapat diakses di tempat lain,” ucap Jojor.

Pusda juga akan mengusahakan agar buku langka yang terdapat di Taman Baca Luckman Sinar dapat direproduksi lagi. Merujuk UU No 4 Tahun 1996 tentang wajib menyimpan karya cetak dan karya rekam, Jojor mengatakan jika catatan sejarah yang dikoleksi di Taman Baca Luckman Sinar harus terdata dideposit Pusda. “Kami akan usahakan cetak ulang aja,” ujarnya.

Menyadari taman baca yang ia kelola masih butuh pembenahan, Mira mengaku sedang mengusahakan agar TBM Luckman Sinar juga dibantu berbagai pihak. “Saya mengharapkan tempat ini terpublikasikankepada seluruh masyarakat sembari masih menata ulang,” kata Mira.

Sarat Buku Dasar Kajian Lokal

Muhammad Iqbal Damanik Mahasiswa Ilmu Komunikasi USU merasa kehadiran TBM Luckman Sinar sebagai wahana baru. Mahasiswa yang kerap meneliti ini mengatakan berada di tempat ini seakan terbawa kepada suasana yang kental dengan Melayu.

foto: Sofiari Ananda
Dari beberapa buku yang ia lihat dan baca, Iqbal yang tercatat lima kali berkunjung ke sana menjadi banyak memperoleh tentang fakta bagaimana adat Melayu dan Batak sebagai dua budaya yang dominan di Sumatera Utara. “Kita dapat gali karakter asli dari dasar, ya sebagai kamu muda terpelajar, kita harus bantu lestarikan warisan Tengku Luckman. Yang namanya taman baca atau perpustakaan, nyawanya adalah pembaca,” ujarnya.

Senada dengan Iqbal, Mira yang pernah sepuluh tahun mendampingi aktivitas ayahnya juga tekankan pentingnya untuk mencari dan menjaga identitas budaya lokal. Dulu, diceritakan Mira Tengku Luckman giat belajar lantaran ia tak mau pekatnya budaya asli yang ia emban tidak luntur melawan arus budaya modern yang berafiliasi. Sejak tahun 1953, beberapa tahun setelah Indonesia merdeka, Tengku Luckman memulai meneliti, belajar, dan menulis untuk lestarikan adat leluhurnya.



Selama hidupnya itu juga ia telah hasilkan karya 32 judul buku dari hasil penelitian dan pemikirannya. Ia juga selalu mensugesti agar kebiasaan baca yang ia punya dapat menular ke semua orang, karena buku dapat mengembalikan identitas suatu bangsa. Seperti kata mutiara yang ia tuliskan “Ingat akan tunjuk ajar, ingat amanah dan petuah, pandai pengunut langkah lalu, pandai membaca jejak yang lampau, pandai mencontoh yang sudah, bijak membaca yang tiba”.